DEANA’S HEARTBEAT
DEANA’S HEARTBEAT
“Nyonya Ningrum! Cepet beresin ruang tamu!.” Teriak seorang
wanita dengan wajah yang terlihat kesal menghadapi putrinya itu.yang dipanggil
langsung muncul walau ekspresinya sangat tak bersahabat.
Bukan,bukan ia
marah pada ibunya.Tapi,pada ucapan ibunyayang menyinggung nama atau lebih
tepatnya status bahwa ia punya pangkat bangsawan atau darah biru dari garis
ayahnya.
“Udah,sih! Gak usah nyebut nama itu!.” Sungutnya sebal
sambil memungut peralatan Ps dan beberapa kaleng soda yang sudah kosong.
“Kan emang iya?.” Balas ibunya cepat.
Ia tampak tampak menghela nafas pelan.
Tak akan ada
akhirnya jika terus berdebat dengan ibunya Hazal El-Rumi –seorang ibu rumah
tangga dan mantan politikus berdarah Turki –Belgia juga seorang ibu cerewet
bagi Deana El-Rumi Ningrum.
“Makanya ,kalo udah main terus cepet beresin . Bukannya
malah pidah ke kamar!.” Ibunya terus mengoceh sambil memotong-motong bawang
yang akan ia goreng.Dengan cepat ia berlari ke kamarnya sebelum telinganya
terasa panas mendengar ibunya mmengomel.
“DEANA!.” Teriak Hazal marah.
Oh iya, satu lagi
bahwa ketika seorang hazal El-Rumi marah maka semua orang harus menyimak ,
mendengarkan dan memperhatikannya. Jika tidak, ia akan marah seperti saat
ini.Putrinya tampak biasa saja malah ia rebahan terlentang dikasurnya.
Ceklek. Suara pintu terbuka.
Deana hanya
melirik pada pintu yang terbuka.Disana ketiga kakaknya bersedekap kesal melihat
adiknya yang santai, sementara sang ibu sudah marah besar.
“Lo tahu kan kesalahan,lo ?.” Tanya Dean selaku kakak
tertua.
Tak ada jawaban
dari Deana membuat Sean maupun Rean menggeram marah.
“DEANA!.” Rean kalut emosi dengan cepat ia menghampiri
adiknya membuat Dean dan Sean kalap mengekor lalu bersiaga agar kembarannya itu
tak berlaku kasar.
“LO!.” Teriaknya marah membuat Deana menautkan kedua alis
dan berganti menjadi posisi duduk.
Dengan cueknya ia bertanya melalui isyarat kedua alisnya
yang diangkat.
“Lo bisa gak sih jangan buat orang rumah marah terutama sama
bunda!.” desis Rean
“lah,mama aja yang ngegas dulu!.”
Balasnya pelan sambil menatap mereka bergantian.
“Kenapa sih Ayah yang milih lo buat tinggal disini,kenapa
enggak Deani ?.”
Merasa
tersinggung dan dibandingkan seperti itu Deana juga tersulut emosi.
Deani El-Rumi Ningrum –kembaran sekaligus musuhnya.Dari dulu
ia dan Deani selalu dibandingkan.
Jika deana cantik
maka Deani lebih cantik bahkan anggun.Jika Deana pintar maka Deani lebih
pintar,cerdas dan sopan.Namun,jika Deana nakal maka Deani tidak,bahkan kata
orang Deani itu dianggap Ratu Bangsawan yang ramah.
“Karena papa cuma yang sayang sama gue!.” Balas Dena dengan
senyum penuh kemenangan.
Ekspresi
ketiganya berubah menjadi tertegun karena memang selama ini ketika mereka
mengucilkan Deana hanya R.Azkiel Hilman – papanya yang selalu ada walaupun ia
selalu sibuk dengan dunia bisnis batiknya.karena didalam garis keturunannya
,Azkiel mendapat tugas untuk meneruskan perusahaan bisnis batik khas Malang
.Deana juga tidak marah jika mereka mengolok-ngolok,memarahi atau mengejeknya.
DEANA
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam, mas pulang? Mana oleh-olehnya ?.”
Pagi ini
menyambut kepulangan Azkiel dari Singapura.Bukan Hazal namanya jika tak
menanyakan oleh-oleh.
“Iya,ini ada! Mana Dea...?.”
“Disini pa!.”
Belum juga Azkiel
melanjutkan pertanyaannya,seorang gadis berambut pirang juga memakai baju
kazual setengah berlari kemudian memeluknya.
“Papa kangen!.” Bisik Azkiel
sambil menghirup aroma yang melekat pada tubuh putrinya.
“Deana juga!.” Belum sempat Deana meneruska kalimatnya ,sang
ibu-Hazal menarik Azkiel menjauhi putrinya.
“Ah.mama! kan belum kelar kangennya .”Protes Deana setengah
memberengut melihat Azkiel ditarik Hazal menuju ruang makan .
Meski begitu ia
tidak akan marah karena bahagianya Hazal juga bahagianya.
TAMAT
By:Dhin
Khairina
Komentar
Posting Komentar